Pengguna masker terus mengalami
peningkatan. Beberapa dekade lalu, hanya beberapa kalangan saja yang
intens memakai masker dalam kehidupan kesehariannya. Itupun mereka
lakukan demi profesi kerja, misal para medis, petugas laboratorium,
pekerja pabrik, pekerja bangunan, dll.
Dari keterangan Komite Penghapusan
Bensin Bertimbal (KPBB) baru-baru ini, kondisi udara di ibu kota RI
terus memburuk. Bahkan menurut Ahmad Safrudin, Koordinator KPBB, polusi
udara di DKI Jakarta termasuk yang tertinggi bila dibandingkan dengan
ibu kota negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya dan sumber
pencemaran yang paling besar yaitu sekitar 70 persen berasal dari asap
kendaraan bermotor.
Menghirup udara kotor secara
kontinyu atau terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama
tentunya bisa membahayakan tubuh, terutama bagi organ pernafasan
manusia. ISPA atau infeksi saluran pernafasan atas menjadi penyakit
pernafasan yang paling sering menjangkiti masyarakat perkotaan. Karena
hal itulah, masker dibutuhkan.
Masker, selain bisa digunakan untuk
menjaga kesehatan juga dapat dilirik sebagai peluang usaha. Keuntungan
yang diperoleh dari menjual masker bisa menjadi “udara segar” bagi para
pelaku bisnis. Dipadukan dengan kreativitas serta ketrampilan menjahit,
masker bisa diproduksi dengan desain yang lebih fashionable dan trendi. Jenis bahan, pola serta warna masker dapat dikreasikan mengikuti selera konsumen.
Banyak produsen masker yang sukses meraih untung berlipat dari masker. Tito Sudianto contohnya. Produsen masker bermotif untuk biker
sekaligus pemilik maskermotif.com ini mampu menjual sekitar 500 unit
masker dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15
ribu/unit. Dalam kondisi permintaan yang tinggi, Tito bisa mengantongi
omzet hingga Rp10 juta/bulan. Padahal, menurut Trijaya.com, Tito merupakan pemain baru yang mengawali usahanya itu pada awal tahun 2010.
Lalu ada pula Arianto, produsen
masker bermotif batik. Dengan mengambil bahan dari Solo, Jawa Tengah,
Arianto mampu memproduksi 13.500 masker dari kain batik sepanjang 900
meter yang kemudian dijual seharga Rp7 ribu untuk grosir dan Rp8 ribu
untuk eceran dengan ketentuan minimum pembelian sebanyak 8 buah. Menurut
pantauan Kontan, usaha yang telah dirintis sejak tahun 2009 itu sukses membuahkan omzet sebesar Rp20 juta/bulan.
Bagi Anda yang tertarik terjun
dalam bisnis ini, sebaiknya lakukan inovasi agar bisa lolos dari
ketatnya persaingan. Buatlah masker yang lebih unik misalkan berbentuk
hewan atau makanan, dsb. Pembuatan masker juga bisa disesuaikan dengan
karakteristik konsumen. Jika Anda ingin membidik anak-anak, buatlah
masker berpola tokoh kartun yang lucu-lucu dan sedang booming.
Sementara bila ingin menyasar para eksekutif muda, buatlah masker
berpola gadget atau hal-hal seputar teknologi dan sebagainya.
Untuk mengawalinya, Anda bisa memulainya dari skala kecil atau skala rumah
tangga. Gunakan waktu luang untuk mendesain dan memproduksi masker lalu
uji respon market dengan menjualnya ke kerabat dekat, seperti sanak
saudara, tetangga, teman dekat, dll. Pemasaran secara online juga sangat
disarankan untuk menarik minat konsumen.
Walau bukan termasuk bisnis baru,
potensi membuat serta menjual masker ini diprediksi tetap cerah hingga
beberapa tahun ke depan. Selama jumlah penduduk terus bertambah yang
berimbas pada penambahan kendaraan bermotor dan peningkatan polusi
udara, masker akan tetap diperlukan konsumen. Apalagi, masyarakat
sekarang ini lebih concern
terhadap kesehatan. Demi menjaga harta tak ternilai itu, masyarakat
dipastikan akan memilih serta melakukan yang terbaik. (*/ely)
Sumber : http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis-mikro/11313-udara-segar-di-balik-bisnis-penjualan-masker.html
No comments:
Post a Comment